Refleksi Moral: Membenahi Diri Sendiri Lebih Utama Daripada Menghakimi Orang Lain
JAKARTA, 23 MEI 2026 – Di tengah hiruk‑pikuk kehidupan yang kerap diwarnai pertikaian, perselisihan, hingga saling mengungkit keburukan sesama, kembali mengingatkan kita pada nilai luhur yang mulai tergerus: ketenangan hati dan kebiasaan membenahi diri sendiri. Prinsip ini bukan sekadar nasihat kehidupan biasa, melainkan fondasi utama yang harus dimiliki setiap insan, apalagi bagi mereka yang bergerak di jalur hukum dan keadilan.
Hal ini dikemukakan secara mendalam oleh Dr. Pieter C. Zulkifli, S.H., M.H., Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN PERADI), dalam sebuah refleksi pagi yang penuh makna dan pesan moral yang mendalam. Beliau mengutip ungkapan bijak: “Hati yang tenang tidak menikmati membicarakan keburukan orang lain. Ia lebih sibuk membenahi dirinya sendiri daripada menghakimi kehidupan orang lain.”
Ketenangan Hati Sebagai Cerminan Kematangan Berfikir
Menurut Pieter, hati yang tenang adalah bukti kematangan jiwa dan ketinggian akhlak seseorang. Sifat ini jauh berbeda dengan perilaku yang kerap kita jumpai, di mana banyak orang justru merasa bangga atau senang saat membicarakan aib, kesalahan, atau kekurangan orang lain.
“Membicarakan keburukan orang lain tidak akan menaikkan derajat kita, justru sebaliknya, ia menurunkan martabat dan harga diri kita di mata Tuhan maupun sesama. Hati yang tenang dan bersih tidak akan mendapatkan kenikmatan sedikit pun dari hal‑hal yang negatif. Ia paham bahwa setiap manusia pasti memiliki kekurangan, dan tugas kita bukanlah mengungkitnya, melainkan saling mengingatkan dengan cara yang bijak dan santun,” tegas Pieter.
Lebih jauh beliau menjelaskan, ketenangan hati juga berkaitan erat dengan prinsip keadilan. Seseorang yang hatinya gelisah, penuh prasangka, dan gemar mencari kesalahan orang lain, sulit untuk bisa bersikap adil dan objektif dalam menilai suatu perkara atau peristiwa.
Membenahi Diri: Kewajiban Utama Sebelum Menilai Orang Lain
Pieter menyoroti fenomena sosial yang terjadi saat ini, di mana banyak pihak yang begitu mudah, cepat, dan berani menghakimi kehidupan, perbuatan, maupun keputusan orang lain, namun lupa menengok ke dalam diri sendiri.
“Kita sering kali sangat peka melihat debu di mata orang lain, namun tidak menyadari balok kayu di mata sendiri. Inilah kelemahan terbesar manusia. Padahal, waktu dan tenaga yang kita gunakan untuk menghakimi orang lain, jauh lebih bermanfaat jika kita gunakan untuk membenahi diri sendiri, memperbaiki kesalahan masa lalu, dan menyempurnakan akhlak kita,” urai beliau.
Bagi Pieter, prinsip ini sangat relevan dan menjadi tuntutan mutlak bagi seluruh anggota PERADI dan penegak hukum. Sebagai profesi yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, advokat dan praktisi hukum harus menjadi teladan dalam hal perilaku dan etika.
“Seorang penegak hukum, seorang advokat, atau pemimpin organisasi yang hebat bukan dinilai dari seberapa tajam ia mengkritik atau menilai orang lain, melainkan dari seberapa bersih dan baik perilakunya. Jika kita sibuk mengurusi kesalahan orang lain, kapan kita akan sempurnakan diri kita? Ingatlah, kita hanya berhak menilai diri sendiri, sedangkan menilai orang lain adalah wewenang mutlak Tuhan Yang Maha Kuasa,” tambahnya.
Relevansi Nilai Bagi Penegakan Hukum dan Persatuan
Dalam pandangan hukum dan organisasi, Pieter menekankan bahwa budaya saling menghakimi dan membicarakan keburukan adalah bibit perpecahan. Hal ini sering kali memicu konflik internal, perselisihan, hingga melemahkan persatuan di kalangan profesi maupun masyarakat luas.
“Di dalam PERADI, kami mengajarkan bahwa persatuan dibangun di atas rasa saling menghargai, mengoreksi diri sendiri, dan memaafkan kekurangan orang lain. Keadilan yang kita tegakkan di luar sana harus tercermin pula di dalam hati dan perilaku kita. Kita menegakkan hukum untuk melindungi hak orang lain, bukan untuk menjatuhkan atau mencari kesalahan orang lain demi keuntungan sendiri,” jelasnya.
Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya rekan‑rekan seprofesi, untuk mengubah pola pikir: berhenti menjadi pengamat yang suka menghakimi, dan mulailah menjadi pribadi yang sibuk memperbaiki kualitas diri, ilmu, dan amal perbuatan.
Penutup: Pesan Penyejuk Hati
Di akhir pernyataannya, Dr. Pieter C. Zulkifli menutup dengan pesan yang menyejukkan hati dan menjadi renungan pagi bagi kita semua.
“Selamat pagi. Mari kita mulai hari ini dengan hati yang tenang. Berhentilah membicarakan keburukan orang lain, karena itu tidak memberi manfaat apa pun. Sibukkanlah diri untuk memperbaiki diri sendiri, memperbanyak kebaikan, dan menjaga lisan dari hal yang tidak perlu. Karena manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling baik akhlaknya dan paling bermanfaat bagi sesama.”
Pesan ini diharapkan menjadi pengingat terus‑menerus, bahwa kebesaran seseorang bukan terletak pada seberapa banyak ia mengkritik, melainkan seberapa besar ia berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
(Redaksi)










