Refleksi: Jangan Hanya Sibuk Memperpanjang Hidup, Tapi Perbaiki Hidup Sesuai Kebenaran dan Keadilan
JAKARTA, 22 MEI 2026 – Setiap manusia yang lahir ke dunia sesungguhnya telah memegang satu nomor antrian yang tidak terlihat, tidak dapat ditukar, dan tidak pernah diketahui kapan akan dipanggil pulang. Di balik kefanaan dunia ini, ada aturan yang lebih tinggi dan abadi: hukum keadilan yang berlaku bagi siapa saja tanpa kecuali.
Hal ini ditegaskan oleh Dr. Pieter C. Zulkifli, S.H., M.H. (Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional PERADI). Ia mengaitkan pesan mendalam tentang kehidupan ini dengan prinsip‑prinsip hukum yang menjadi landasan profesinya.
Makna Kehidupan dan Kaitan dengan Prinsip Hukum
Menurut Pieter, kehidupan dunia ini hanyalah persidangan sementara, sedangkan kematian adalah batas waktu pengumpulan bukti akhir.
“Suatu hari nanti kita semua akan pergi meninggalkan dunia. Tidak ada jabatan yang bisa melindungi, tidak ada kekayaan yang dapat dibawa. Dalam hukum, kita mengenal asas persamaan di hadapan undang‑undang. Begitu pula dalam kehidupan: di hadapan keadilan Yang Maha Agung, semua manusia setara. Nomor antrian kepulangan tidak memandang pangkat, harta, atau kekuasaan,” ungkap Pieter.
Ia menegaskan, hukum mengajarkan tanggung jawab dan akuntabilitas. Demikian pula hidup: setiap perbuatan memiliki konsekuensi hukum yang pasti.
Memperbaiki Hidup Sesuai Nilai‑Nilai Hukum
Pieter menyoroti realita yang sering terjadi: banyak orang sibuk memperpanjang usia dan mengumpulkan kekayaan, namun melupakan nilai hukum dan keadilan.
“Kita sering sibuk memperpanjang hidup, tapi lupa memperbaiki hidup. Padahal dalam hukum, ada asas kepastian hukum dan keseimbangan. Hidup yang benar adalah hidup yang taat aturan, adil, tidak merugikan orang lain, dan memegang teguh amanah. Bagi penyelenggara hukum maupun masyarakat umum, kesuksesan bukan diukur dari harta, melainkan seberapa taat kita pada kebenaran,” jelasnya.
Sebagai Waketum DPN PERADI, ia menambahkan pesan khusus bagi dunia hukum:
“Bagi kami para advokat dan penegak hukum, pesan ini adalah pengingat terbesar. Jangan gunakan pengetahuan hukum untuk mencari keuntungan sesaat atau memutarbalikkan kebenaran. Ingatlah, nomor antrian bisa dipanggil kapan saja. Saat itu tiba, tidak ada pembelaan teknis hukum dunia yang dapat menolong. Hanya kebenaran dan keadilan yang kita tegakkan yang menjadi bekal paling sah.”
Hukum sebagai Cerminan Keadilan Hakiki
Lebih lanjut Pieter menjelaskan hubungan filosofis antara hukum manusia dan hukum alam:
“Hukum positif yang kita tegakkan di dunia sejatinya adalah cerminan dari hukum yang lebih agung. Jika kita terbiasa menegakkan keadilan, jujur, dan bertanggung jawab selama hidup, maka kita telah mempersiapkan bekal terbaik saat nomor antrian kita dipanggil pulang. Sebaliknya, menyalahgunakan hukum untuk kepentingan pribadi adalah kerugian yang tidak dapat diperbaiki.”
Penutup dan Pesan Reflektif
Ia menutup pernyataannya dengan seruan tegas:
“Hidup adalah perjalanan pulang. Maka sebelum waktu tiba, perbaikilah hidup sesuai koridor hukum dan kebenaran. Jadilah pribadi yang adil, taat aturan, dan bermanfaat bagi sesama. Karena pada akhirnya, kita semua akan diadili berdasarkan apa yang telah kita perbuat, tanpa ada pengecualian.”
Semoga refleksi ini menjadi pengingat pagi yang menyejukkan dan menguatkan komitmen kita dalam menegakkan hukum serta menjalani hidup yang lebih bermakna.
(red)










