JAKARTA, 23 SEPTEMBER 2026 — Di tengah gelombang kekhawatiran publik setiap kali muncul kabar aktivitas gunung api maupun potensi gempa besar, pakar mitigasi bencana geologi Dr. Ir. Surono, DEA., IPU. atau yang akrab disapa Mbah Rono, hadir dengan pandangan yang menenangkan sekaligus mengubah cara pandang: menghadapi alam tidak bisa dilakukan dengan kepanikan atau kekuatan semata, melainkan melalui seni memahami dan hidup berdampingan secara harmonis.
Pandangan mendalam ini dikupas tuntas dalam perbincangannya bersama Eddy Wijaya di Podcast EdShareOn.
Alam Bukan Musuh, Melainkan Sumber Kehidupan
Mbah Rono mengajak masyarakat melihat sisi lain dari apa yang kerap dianggap ancaman. Gunung api dan zona megathrust bukan sekadar momok, melainkan sumber kemurahan hati alam.
“Gunung api itu memberikan segalanya dan tidak pernah meminta kembali. Berkat material letusannya, tanah Jawa dan Sumatera menjadi sangat subur. Kita menikmati air bersih, keindahan alam, destinasi wisata, hingga kekayaan mineral. Bahkan, struktur megathrust yang ditakuti itu adalah alasan mengapa Indonesia memiliki jebakan minyak, gas bumi, dan batubara,” urai Anggota Dewan Energi Nasional tersebut.
Bencana baru muncul ketika manusia melanggar batas yang ditetapkan alam — membangun pemukiman di zona merah, di dekat kawah aktif, atau di jalur bahaya tsunami.
Hormati Kearifan Lokal, Jangan Menentang Tradisi
Salah satu pesan terkuat Mbah Rono adalah pentingnya menurunkan ego akademis ketika berhadapan dengan masyarakat di kawasan rawan bencana. Ilmu pengetahuan paling canggih pun akan gagal jika tidak menyelaraskan diri dengan kearifan lokal yang hidup turun-temurun.
“Menghormati kearifan lokal itu bukan berarti menyembah. Kita harus respek. Sering kali tradisi lokal merupakan bentuk ingatan kolektif masyarakat dalam membaca perilaku alam,” tegasnya.
Ia mencontohkan pengalaman di lereng Gunung Merapi: alih-alih memaksa warga menerima sistem peringatan yang bertentangan dengan kepercayaan mereka, disusunlah solusi yang menyatu dengan kebiasaan warga.
“Kita jangan menentang kebiasaan mereka, kita ikuti saja selagi tujuannya sama. Kita gandengkan antara ilmu pengetahuan modern dengan kearifan lokal agar pesan keselamatan itu mudah diterima,” jelasnya.
Kunci Sukses: Komunikasi yang Memanusiakan Warga
Pendekatan ini terbukti berhasil saat erupsi Gunung Kelud tahun 2014. Puluhan ribu warga dievakuasi dengan tertib, korban jiwa nol. Rahasianya bukan sekadar peralatan canggih, melainkan cara berkomunikasi yang memanusiakan masyarakat.
“Kami latih mereka dan kami ajak untuk mengerti. Kami katakan bahwa Gunung Kelud adalah tuan rumah, dan kita adalah tamunya. Penghormatan seorang tamu adalah dengan mengerti dan menghormati sang tuan rumah. Karena mereka paham, mereka evakuasi secara tertib tanpa kepanikan massal.
Inti Mitigasi Bukan Grafik, Melainkan Manusia
Di akhir perbincangan, Mbah Rono menegaskan bahwa ilmu vulkanologi sejati tidak boleh berhenti pada kajian fisik gunung atau angka-angka di peta. Subjek utama yang harus dilindungi dan dipahami tetaplah manusia.
“Bencana bukan untuk ditakuti atau dijadikan komoditas politik, melainkan untuk dipelajari perilakunya melalui penataan ruang yang benar dan edukasi yang menyentuh hati masyarakat,” pungkasnya.(red)










