Home / Hukum & Advokasi / Robert Simangunsong, S.H., M.H. BENDUM DPN PERADI : Pilih Kata yang Membangun, Jaga Persatuan Sebagai Modal Utama Bangsa

Robert Simangunsong, S.H., M.H. BENDUM DPN PERADI : Pilih Kata yang Membangun, Jaga Persatuan Sebagai Modal Utama Bangsa

 

Perbedaan Pandangan Boleh Ada, Namun Jangan Sampai Lukai Martabat dan Identitas Sesama Anak Bangsa

 

JAKARTA, 28 MEI 2026 – Pernyataan yang disampaikan Permadi Arya atau Abu Janda yang menggunakan sebutan tertentu untuk menyebut masyarakat Sumatera Barat dan Jawa Barat, menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Hal ini kemudian menimbulkan reaksi dari pihak yang merasa kurang berkenan, hingga langkah hukum pun akhirnya ditempuh untuk mencari kejelasan dan keadilan. Menanggapi dinamika yang berkembang, Robert Simangunsong, S.H., M.H. selaku Bendahara Umum Dewan Pimpinan Nasional PERADI menyampaikan pandangannya dengan penuh kebijaksanaan, mengedepankan nilai persatuan, etika, serta aturan yang berlaku.

Diketahui, ungkapan itu terlontar saat membahas persoalan sosial kemasyarakatan. Merasa identitas dan kehormatan budayanya tersentuh, Ikatan Keluarga Minangkabau kemudian melaporkannya ke pihak berwenang dengan dasar ketentuan Pasal 242 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP, guna mendapatkan penjelasan dan penyelesaian yang adil.

“BERBEDA PENDAPAT ADALAH HAL WAJAR, NAMUN CARA PENYAMPAIAN HARUS TEPAT”

Menurut Robert Simangunsong, dalam negara demokrasi kita, setiap orang memiliki kebebasan untuk menyampaikan pendapat, masukan, maupun kritik. Namun, kebebasan tersebut tentu ada etika dan batasannya.

“Menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara, dan hal itu sangat kita hargai demi kemajuan bersama. Namun, pemilihan kata dan cara penyampaian menjadi hal yang sangat penting. Apabila ungkapan yang digunakan terasa kurang pas, terlalu luas maknanya, atau menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan harga diri dan budaya suatu daerah, tentu hal itu akan menimbulkan perasaan kurang nyaman. Kita semua sudah sama-sama mengenal baik karakter masyarakat Sumatera Barat yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat, sopan santun, serta nilai agama dengan prinsip ‘Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah’. Sudah sepatutnya kita saling menghormati kekhasan budaya masing-masing, bukan justru menyamakannya dengan sebutan yang kurang sesuai,” ujarnya dengan nada tenang dan penuh pengertian, Kamis (28/5/2026).

Ia menambahkan, hukum hadir bukan untuk membatasi ruang gerak, melainkan sebagai payung perlindungan agar semua pihak merasa aman, dihargai, dan dapat hidup berdampingan secara damai meskipun memiliki pandangan yang berbeda.

“Kebebasan berpendapat sejatinya berjalan seiring dengan tanggung jawab. Berhak bicara, namun wajib menjaga ketertiban, keharmonisan, dan perasaan orang lain. Itu prinsip dasar yang harus kita pegang bersama agar persatuan bangsa tetap kokoh,” jelasnya.

“MAKNA UCAPAN PERLU DIPAHAMI BERSAMA, PENYELESAIANNYA HARUS DENGAN CARA TERBAIK”

Menyikapi kemungkinan bahwa ungkapan tersebut hanya dimaksudkan sebagai kiasan atau permainan kata semata, Robert berpendapat bahwa yang terpenting adalah dampak dan makna yang diterima oleh masyarakat luas.

“Apapun maksud awalnya, jika ucapan itu dirasakan menyakitkan atau menyinggung oleh banyak pihak, maka sudah menjadi tanggung jawab kita untuk meluruskannya. Tidak perlu diperpanjang permusuhan atau kesalahpahaman. Langkah yang diambil melalui jalur hukum saat ini adalah cara yang sangat teratur, beradab, dan tepat. Lewat jalur resmi seperti ini, kebenaran akan terungkap, hak masing-masing pihak akan terjaga, dan ketenangan bersama tetap bisa kita pelihara,” terangnya.

Ia sangat mengapresiasi sikap semua pihak yang memilih jalan damai dan prosedural, bukan dengan tindakan yang dapat merusak ketertiban umum.

“Ini bukti kedewasaan berbangsa kita. Masalah apa pun yang timbul, bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan sesuai aturan, tanpa harus saling mencurigai atau saling menjatuhkan. Itu modal yang sangat berharga bagi negara kita,” tambahnya.

PESAN KEDAMAIAN: JAGA KATA-KATA, JAGA INDONESIA

Robert Simangunsong juga menyampaikan pesan tulus kepada seluruh elemen masyarakat, terutama para tokoh publik yang ucapannya menjadi teladan bagi banyak orang.

“Kata-kata yang kita ucapkan memiliki kekuatan besar; bisa menjadi sarana yang mempererat persaudaraan, namun bisa juga menjadi pisau yang memisahkan tali silaturahmi. Mari kita lebih teliti, lebih bijak, dan lebih lembut dalam berbicara. Jangan sampai karena satu kalimat yang kurang diperhitungkan, persaudaraan kita yang sudah terjalin lama menjadi terganggu. Kita semua adalah satu keluarga besar Indonesia, kaya akan perbedaan namun bersatu dalam satu tujuan. Mari kita rawat persatuan ini dengan sebaik-baiknya, saling mengisi kebaikan, dan saling menguatkan satu sama lain,” pesannya dengan penuh kerendahan hati.

Ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, agar ke depannya komunikasi antar sesama anak bangsa semakin baik, semakin santun, dan semakin membangun.

“Kalau ada hal yang perlu dikritik, bicarakan masalahnya, perbaikannya, dan kemajuannya. Jangan pernah menyamakan satu kelompok atau satu daerah dengan penilaian yang bersifat umum dan kurang baik. Mari kita bangun Indonesia yang semakin rukun, damai, dan saling menghargai di atas segala perbedaan yang ada,” pungkas Robert Simangunsong.(red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *